Monday, July 18, 2016

In Memoriam: Papa Saya


(Tulisan ini diedit dari kultwit saya tanggal 18 Januari 2014 yang dibukukan dalam buku berjudul #Sharing

Papa saya orang yang keras. Keras hati, keras kepala, keras karakternya, dan yang sangat jelas terlihat, keras bicaranya. Sejak usia muda sudah merantau untuk mengejar mimpinya. Modalnya cuma satu, keberanian menghadapi hidup. Bagi beliau, orang harus punya mimpi, dan mimpi tersebut harus diwujudkan dengan kerja keras. Tanpa keringat dan pengorbanan, tak ada mimpi yang bisa terwujud. Begitulah, dicucinya kakus rumah orang bule, agar dia bisa belajar bahasa Inggris, dirambahnya belantara Kalimantan, Papua, Sumatra, dan dihadapinya gerombolan preman Tanjung Priok, agar bisa mendapatkan nafkah bagi keluarganya.

Dari Papa, saya belajar bahwa "laki-laki itu dinilai dari tanggung jawabnya". Dari beliau juga saya belajar, bahwa "belajar tak harus selalu dari bangku sekolah". Papa saya secara langsung mencontohkan, beliau tak mengenal bangku kuliah, bahkan bangku SMA, tapi banyak hal bisa dipelajarinya, karena ada kemauan belajar dan ingin mewujudkan mimpi. Beliau juga mengajarkan belajar itu berarti juga berbagi pengetahuan yang didapat pada orang lain.

Sebagaimana keluarga Minang perantauan, Papa sebagai salah satu senior perantau ke Jakarta selalu "menampung" orang kampung kami yang datang ke Jakarta. Tak peduli rumah kami kecil. Semua orang boleh datang dan tinggal di rumah. Tinggal, bukan hanya menetap satu dua hari atau satu dua minggu, tapi berbulan-bulan, bahkan menahun. Hal tersebut, bahkan sampai saya beranjak dewasa, sulit saya mengerti. Kenapa harus membiayai orang lain hidup di rumah yang harusnya hanya buat keluarga inti. Tapi kata Papa, "hidup itu bukan cuma buat diri sendiri...ada tanggung jawab kita pada orang lain, Nak.." Tak tahu sudah berapa banyak orang yang jadi "alumni rumah Papa”. Datang, menetap, makan, belajar hidup, dapat kerja atau dapat suami bagi yang perempuan, dan baru sesudah itu ke luar rumah. Herannya, semua “alumni” tersebut merasa bangga pernah berada di “sekolah rumah Papa”. Padahal, pengajaran Papa tak pernah lembut. Keras, dan langsung...kadang terlalu keras. Tapi ya itulah, tetap saja orang datang dan menetap.

Belakangan baru saya mengerti, di balik semua kekerasan Papa saya, ada niat luhur yang tak semua orang punya, yaitu ingin melihat orang lain berhasil, ingin agar orang lain tak perlu sesusah beliau untuk bisa belajar. Geblek! Ternyata konsep yang saya pakai begitu sudah jadi CEO GE Indonesia bahwa "the job of a leader is to create another leader" berakar dari cara hidup Papa saya, yang saya lihat, saya alami, dan saya protes sepanjang masa remaja saya! Juga jauh sebelum saya jadi CEO, Papa saya sudah mencontohkan, "tak masalah kita berkorban untuk orang lain agar mereka jadi lebih maju, karena kalau orang di sekitar kita menjadi lebih baik, kita akan juga jadi lebih baik” Ini kan Pygmalion Effect! Holy cow! Saya membutuhkan 6 tahun untuk mempelajari konsep good followers will make a better leader dan mewujudkannya menjadi disertasi Doktoral. Papa saya melakoninya, menjalankannya lebih dari tiga per empat umurnya. Hal yang saya sebalkan sejak remaja itu, ternyata adalah akar suatu konsep manajemen tingkat tinggi! Papa saya sesungguhnya sudah menjadi “doktor” dan “CEO” kehidupan, jauh sebelum saya memulai karir saya.

Papa saya senang berteman. Temannya banyak dan tak pernah di beri batasan. Dari preman sampai pendeta. Dari orang kampung sampai orang “gedongan”. "Jangan berteman berdasarkan latar belakang seseorang, Han" Kata Papa suatu hari saat saya beranjak remaja. "Tapi agar bisa saling berbagi". Seperti juga saya, Papa anak tunggal. Tapi saudara karena pertemanannya bejibun. Benar-benar jadi saudara dalam konteks “ready to take a bullet for each other”. Bagaimana orang sekeras dan sekasar Papa bisa berteman banyak? Saat saya tanyakan pada teman-temannya, Jawaban mereka seragam. "Ayahmu tak pernah telat untuk menolong."

Ya, rasanya saya ingat Papa selalu bilang, "Jangan pernah ragu untuk menolong orang. Selama bisa, tolong saja. Tak akan ada ruginya.” Sering saya tertegun kalau melihat orang yang berhitung ini itu, mengecek latar belakang ini itu dulu untuk menolong orang.

Sejak belia saya diajari berenang dan bersilat/bela diri oleh Papa. "Agar kau tak takut menempuh halangan" katanya. Beliau menekankan bahwa hidup ini pada dasarnya adalah seberapa berani kita menghadapi tantangan dan halangan yang ada. Semakin takut menghadapi tantangan dan halangan, semakin jauh mimpi yang dicita-citakan akan terkejar. Dari beliau juga saya belajar daya juang, "sesuatu yang didapatkan dengan mudah, mudah pula perginya, Han" Kata beliau. Ketika saya pertama kali berkursi roda, Papa jungkir balik berpikir bagaimana saya bisa kembali ke kehidupan normal. "Bagaimana kamu bisa menikmati hidup kalau kau tak berani keluar rumah dan hadapi kesusahan hidupmu" kata Papa. Kalimat ini melecut saya untuk kemudian mencari taksi dan mulai kembali ke sekolah.

Hari pertama saya tidak bisa berjalan. Circa pertengahan tahun 1987. Mata Papa beradu dengan mata saya. Ada percakapan tak terucap saat itu…seakan kami berkata bersama-sama "it's not going to be an easy life". Saya melihat banyak muara air mata di mata Papa…dan di mata itu berkelebat semua mimpi dan cita-cita beliau untuk saya. Mimpi agar anaknya bisa bersekolah lebih tinggi dari dia. Mimpi agar kehidupan saya lebih baik dari dia.

Tahun 2010. Saya membacakan pidato kelulusan di Sidang Doktor Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Beberapa Minggu sebelum pidato tersebut, saya juga ditunjuk untuk jadi CEO GE Indonesia. Saat Pidato tersebut, mata Papa kembali beradu dengan mata saya. Kembali berbagai bayangan perjuangan hidup kami, baik masing-masing maupun bersama-sama, bekelebat di mata kami. Saat itu rasanya kami berdua berucap berbarengan dalam kalimat yang tak dilafalkan….."we did it!"

Mimpi yang baik itu menular. Mimpi Papa saya yang saya mengerti dan pahami dengan baik menjadi energi untuk saya berjuang. Tidak! Saya tak terbebani. Karena Papa tak pernah menyuruh saya menjadi ini atau itu. Saya tertular untuk berjuang. Saya dengan senang hati ingin mewujudkan apa yang Papa yakin saya bisa wujudkan. Saya mendapatkan Self Fulfilling Prophecy. Saya terkena Pygmalion Effect.

Ajaran Papa saya keras, langsung. "Selama bukan barang yang kau dapatkan dari usahamu, tak boleh diperlakukan seenak kau" Kata beliau. Jadilah, sepatu disemir dan dicuci sendiri, barang yang dibelikan harus dirawat sedemikian rupa. Kalau mau naik mobil, harus bisa dan mau cuci mobil. Nah, saat saya mahasiswa, saya bekerja ini itu sekedarnya dan suatu hari bisa membeli tape recorder. Di depan beliau, saya jatuhkan tape recorder tersebut dengan sengaja. Papa ketawa. “Nah, itu barang kau…terserah mau diapakan.” Katanya.

Dalam studi leadership, ajaran Papa adalah accountability. Leaders accountable dengan role nya. No excuse, No blaming others. Leaders lead dengan energi, dengan optimisme, dengan passion untuk membantu orang lain maju. Bukan dengan menyalahkan orang lain. Leaders itu accessible, tak ngumpet ketika diperlukan kehadirannya, tak mencari orang lain untuk bicara tanggung jawabnya. Leaders itu tak pernah takut untuk belajar, walaupun dari kegagalan dan kesusahan.

Di usia senjanya, Papa terbaring sakit. Tak bisa berjalan lagi. Tapi tetap tak mau telat untuk menolong orang lain...sebisanya. "Hidup kau akan berarti, kalau kau bisa berguna bagi orang lain" katanya berulang kali. Hari Kamis 14 Juli lalu, beliau wafat. Butuh 4 tahun sakit-pakai oksigen-tak mampu berjalan dan terus melemah serta 13 hari di ICU untuk membuat Papa benar-benar pergi. Sampai di hari terakhir usianya, tak berhenti beliau berusaha “berbagi” dengan orang lain, walaupun dengan kata-kata yang tak lagi bisa terdengar karena terhambat oleh selang ventilator.

Tak banyak harta yang beliau tinggalkan. Satu rumah sederhana di Kompleks PWI Cipinang Muara, dan sedikit tabungan. Tapi mudah-mudahan beliau meninggalkan pelajaran pada banyak orang. Mudah-mudahan beliau berguna bagi banyak orang. Yang pasti, bersama Ibu saya, beliau adalah Guru saya pertama, dan sangat berarti buat saya.

Papa saya orang yang keras. Keras hati, keras kemauan, keras suaranya. Di kuburnya, Jumat lalu, saya berjanji. I will continue as best as I could, untuk bisa berguna bagi orang lain. Selamat jalan, Pa!


Tebet, 17 July 2016

7 comments:

eprastya said...

Terima kasih.

Terima kasih Pak Handry, untuk tulisan2 sederhana dengan pembelajaran moral yang luar biasa.
Semoga semua amal kebaikkan Beliau selama di dunia, tergantikan dengan hadiah surga terindah dan Beliau kekal di dalamnya. Aamiin ya Rabb.
Last but not least, semoga saya bisa menjadi salah satu orang, yang bisa meneruskan dan berbagi pertolongan kepada yang lain, seperti yang dicontohkan Almarhumah.

Salam,
Esty

Abrar Meli said...

Merinding bacanya mas handry

Wildah Faizati said...

Terima kasih mas Handry inspirasinya :)

Venessa Aiman said...

Insyaa Allah berkumpul lagi di surga nanti pak. Ammiin.

el akbar said...

Teringat pesan Om Jar pada saya dimasa baru mulai bekerja, menabunglah (berilah) pada ibumu, tak akan akan susah hudupmu.. (it works for me) alfatihah untuk Om Jar, semoga kebaikannya didunia menjaganya terus dialam baka dan menempatkannya ditempat terbaik disisNya. Amin

Apriani Alva said...

Mewek saya baca ini. Makasih bang Hendry. Jujur saya iri dg kedekatan bang Hendry dengan papanya. Sekararang saya tau pelajaran apa yg ingin disampaikan oleh Abah saya. Maksih atas tulisannya yang menyentuh. I hope I will meet you again.

koekoeh batara said...

Terima kasih sudah berbagi dengan kami Pak.
Perjuangan alm papanya Pak Handry sungguh menginspirasi saya.